Sabtu, 24 April 2010

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) DAN IMPLEMENTASINYA



PENDAHULUAN

Disadari atau tidak, kualitas pendidikan di Indonesia yang dipandang rendah kini mulai setahap ada peningkatan. Setidaknya ada upaya-upaya serius dari pemerintah, juga seluruh komponen pendidikan yang terlibat. Meski masih sering ditemukan kebijakan-kebijakan yang ambigue namun jika kita mengikuti perkembangan yang ada, ada optimisme pendidikan di Indonesia akan meningkat kualitasnya.
Saat diperkenalkannya Kurikulum Berbasis Kompetensi pada tahun 2004 sesungguhnya bangsa ini telah disuguhi pola pendidikan baru yang sangat menantang. Namun pada tahun 2006 muncul Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP sesungguhnya memiliki roh yang sama dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), hanya bedangan KTSP bernuansa otonomi. Jika sebelumnya dunia pendidikan selalu bersifat sentralisasi, dengan KTSP desentralisasi mulai diperkenalkan dan dilaksanakan. Kebijakan pendidikan yang menganut paham desentralisasi menekankan pengambilan kebijakan pendidikan berpindah dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah yang berpusat di pemerintahan kota dan kabupaten (Mulyasa 2009:1). Hal yang sangat krusial dimengerti secara benar dan utuh adalah bagaimana mengembangkan kurikulum di tingkat sekolah yang disebut KTSP itu.
Kurikulum Tingkat Sekolah (KTSP) merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing sekolah. KTSP ini dikembangkan sesuai dengan tuntutan otonomi pendidikan. Pengembangan KTSP oleh sekolah sesuai dengan situasi dan konteks yang dimilikinya. Akan tetapi, sekolah tetap harus mengacu pada lingkup standar nasional pendidikan yang ada, sesuai dengan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Sudrajat, 2008). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sekolah-sekolah pada akhirnya harus menyusun sendiri kurikulum yang sesuai dengan situasi, kondisi dan karakteristik sekolah tersebut. Namun permasalahannya jika sampai pada tahapan implementasi, pola ini akan berhadapan dengan kenyataan yang sangat beragam. Di seluruh Indonesia ada ribuan sekolah negeri dan swasta yang terletak pada wilayah yang sangat luas dan beragam topografinya. Pengembangan kurikulum bukanlah merupakan suatu pekerjaan yang mudah, sementara guru-guru di sekolah tidak semuanya memiliki kemampuan dan kesiapan melaksanakan.
Pada kesempatan ini penulis hendak memberikan gambaran konkret berkaitan dengan implementasi KTSP di SMPK Frateran Celaket 21 Malang. SMPK Frateran terletak di pusat kota, yang nota bene sangat mudah mengakses segala informasi dan perubahan dari pusat. Jika sekolah yang berada di pusat kota saja mengalami kendala, betapa besar kendala-kendala yang ditemui sekolah-sekolah yang terletak di daerah-daerah terpencil.

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah adalah :
1. Apakah konsep dasar KTSP?
2. Apakah Landasan KTSP?
3. Bagaimana pengembangan KTSP?
4. Bagaimana implementasi KTSP di sekolah?
5. Apakah kendala-kendala pengembangan KTSP?


Makalah ini dibuat dengan penelitian dan pengamatan dalam lingkup kecil, yaitu sekolah. Oleh sebab itu kesimpulan yang diambil dengan sendirinya tidak dapat dipergunakan untuk menggambarkan kondisi yang berbeda, apalagi dalam lingkup yang luas. Penulis berharap makalah ini dapat member sedikit gambaran berkaitan dengan kendala implementasi KTSP dan kemungkinan solusinya.








KONSEP DASAR KTSP

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas : (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan(SKL), (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan dan (8) standar penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kurikulum pada KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada SI dan SKL serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kecuali itu, penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005. Panduan yang disusun BSNP terdiri atas dua bagian:
1. Panduan Umum yang memuat ketentuan umum pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan pada satuan pendidikan dengan mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam SI dan SKL.Termasuk dalam ketentuan umum adalah penjabaran amanat dalam UU 20/2003 dan ketentuan PP 19/2005 serta prinsip dan langkah yang harus diacu dalam pengembangan KTSP.
2. Model KTSP sebagai salah satu contoh hasil akhir pengembangan KTSP dengan mengacu pada SI dan SKL dengan berpedoman pada Panduan Umum yang dikembangkan BSNP. Sebagai model KTSP, tentu tidak dapat mengakomodasi kebutuhan seluruh daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan hendaknya digunakan sebagai referensi.
Panduan pengembangan kurikulum disusun antara lain agar mampu member memberi kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk : a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, b) belajar untuk memahami dan menghayati, c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, d) belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, dan e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM).

LANDASAN HUKUM KTSP

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum resmi yang disiapkan pemerintah untuk seluruh sekolah yang bernaung dalam Negara kesatuan Republik Indonesia karena kurikulum ini disusun sebagai implementasi dari Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Adapun landasan hokum sebagai paying hokum dilaksanakannya KTSP adalah :
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dua dari delapan standar Nasional Pendidikan ini mencakup :
- Standar Isi (SI)
SI mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Termasuk dalam SI adalah : kerangka dasar dan struktur kurikulum, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menengah. SI ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 22 Tahun 2006.



- Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
SKL merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagaimana yang ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 23 Tahun 2006.


PRINSIP PENGEMBANGAN KTSP

Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah :
KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI dan SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP .

KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
b. Beragam dan terpadu
c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan
e. Menyeluruh dan berkesinambungan
f. Belajar sepanjang hayat
g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

IMPLEMENTASI KTSP

Implementasi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) secara langsung hanya menyangkur dua standar pendidikan yaitu Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. Ini artinya baru merupakan sebagian kecil dari delapan standar pendidikan nasional, yang sesungguhnya masih merupakan standar minimal tersebut


Mengingat KTSP merupakan “barang baru” bagi dunia pendidikan di Indonesia, terutama juga bagi guru-guru di seluruh Indonesia, diperlukan langkah-langkah taktis dari seluruh pihak terkait, baik Dinas Pendidikan ti tingkat pusat hingga daerah, BNSP, perguruan-perguruan tinggi dan sekolah-sekolah.
Langkah pertama yang harus dilakukan dengan baik adalah sosialisasi. Karena melibatkan ribuan sekolah, tentu hal ini membutuhkan kerja keras semua pihak. Sosialisasi telah dilaksanakan di seluruh Indonesia. Namun karena peserta temu sosialisasi pada umumnya kepala sekolah, tentu perlu sosialisasi lanjutan di tingkat sekolah. Jika hal ini hanya dilakukan oleh kepala sekolah belum tentu konsep dasar yang diperkenalkan dapat dicerna dengan baik.
Langkah sosialisasi harus ditindaklanjuti dengan upaya konkret pihak sekolah untuk melakukan workshop KTSP. Pelaksanaan workshop KTSP sudah dilaksanakan oleh tiap provinsi maupun daerah tingkat dua. Namun workshop ini tidak mudah, karena melibatkan semua guru di seluruh Indonesia. Kecuali itu narsumber yang memberikan workshop juga sangat terbatas. Pada umumnya pemateri berasl dari perguruan tinggi negeri. Permasalahannya mampukan seluruh dosen PTN melayani seluruh sekolah di Indonesia. Kecuali itu secara materi mampukah tenaga-tenaga tersebut mampu memberikan workshop memadai, sehingga para guru sungguh mengerti. Atau barangkali di antara para dosen sendiri juga masih memiliki penafsiran yang berbeda-beda tentang KTSP. Inilah permaslahan-permasalahan yang mungkin muncul dalam pelaksanaan KTSP. Maka dapat diprediksi, belum semua sekolah mampu mengembangkan KTSP di tingkat sekolah. Memang ada tiga kemungkinan sekolah menyikapi KTSP: mengembangkan sendiri, mengakomodasi/mengadopsi atau mengambil mentah-mentah. Hal yang terakhir inilah yang kemungkinan masih terjadi, terutama untuk sekolah-sekolah yang memiliki keterbatasan sumber daya.
Langkah yang barangkali dapat diambil adalah :
1. Melakukan sosialisasi secara menyeluruh dan serentak.
2. Mengadakan workshop (pelatihan) terhadap semua sekolah.
3. Memberlakukan KTSP secara bertahap, pertama melalui uji coba.
4. Melaklukan evaluasi secara menyeluruh.
5. Melakukan perbaikan system, terutama berkaitan dengan pelaksnaan sosialisasi dan pelatihan.
Perlu ditekankan bahwa KTSP adalah kurikulum resmi yang disiapkan untuk seluruh sekolah di Negara kesatuan Republik Indonesia. Sering ditegaskan bahwa saat ini tidak ada lagi dikotomi sekolah negeri dan swasta. Namun dalam tataran implementasi, sekolah-sekolah negeri seringkali menerima berbagai informasi dan kemajuan jauh lebih cepat disbanding sekolah-sekolah swasta.

IMPLEMENTASI KTSP DI SMPK FRATERAN CELAKET 21 MALANG

1. Implementasi
Sebagai sebuah sekolah swasta yang berada di tengah kota Malang SMPK Frateran Celaket 21 berusaha mengikuti berbagai perkembangan dalam dunia pendidikan. Demikian pula dalam kurikulum baru yang disebut KTSP itu. Pada tahun 2004 sebenarnya sekolah ini telah bersiap-siap melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi, bahkan telah melakukan pelatihan bersama-sama sekolah lain dalam satu yayasan. Namun saat proses sedang berlangsung, muncullah KTSP. Sosialisasi KTSP tidak diterima langsung lewat dinas pendidikan setempat. Informasi tentang KTSP justru lebih dahulu diterima sekolah dari sesame sekolah swasta di Surabaya. Dengan kata lain, sekolah tidak menerima sosialisasi langsung dari dinas pendidikan setempat.
Pada langkah berikutnya, sekolah tidak ingin ketinggalan informasi maka secara proaktif mencari informasi dari sekolah-sekolah se-yayasan yang berada di Surabaya maupun Palembang. Proses berikutnya dilaksanakan pelatihan (workshop) untuk seluruh guru. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan November 2006 hingga April 2007 untuk sekolah-sekolah se-yayasan yang mencakup sub perwakilan-sub perwakilan Jawa, Sumatra dan NTT. Narasumber yang dipanggil berasal dari Universitas Negeri Malang, khususnya bidang UPT PPL.
Pelatihan dilaksanakan rata-rata selama 3 – 4 hari dan dilaksanakan secara berkesinambungan. Pada akhirnya tahun pelajaran 2007/2008, karena dinas pendidikan kota Malang mencanangkan pemakaian KTSP secara serentak, semua bisa diselesaikan hingga pengesahan kepala dinas pendidikan kota.
Pada tahapan selanjutnya, setelah guru-guru berhasil menyusun kurikulum hingga Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), kemudian merancang pembelajaran dengan segala kelengkapannya. Pada umumnya, meski pola yang dianut berbeda dengan kurikulum 1994, namun pelaksanaan kegiatan pembelajaran masih belum menampakkan roh baru. Kurikulum baru namun proses pembelajaran tetap sama. Hal ini disadari sebagai suatu pembelajaran, karena penyusunan KTSP belum tuntas hingga akar-akarnya. Kecuali itu pola PAKEM (pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan) serta berbagai pemodelan pembelajaran belum dikuasai/dimengerti.

Kendala
Setelah berjalan selama dua tahun akhirnya dapat ditemukan beberapa kendala pelaksanaan KTSP di kalangan para guru :
a. Belum semua guru berusaha mengembangkan silabus dan RPP secara benar karena keteerbatasan pemahaman. Masih ada mata pelajaran yang menggunakan silabus buatan penerbit/sekolah lain, terutama mata pelajaran yang tidak memiliki guru khusus.
b. Rata-rata guru belum mengenal model-model pembelajaran yang baru. Kalaupun mengenal, tidak dilaksanakan dalam pembelajaran.
c. Rata-rata guru masih menggunakan pola pembelajaran konvensional. Demikian pula dalam melaksanakan penilaian, rata-rata masih menggunakan pola lama. Hal ini sering juga disebabkan dinas pendidikan belum memahami KTSP secara benar sehingga pernah terjadi dalam empat tahun terjadi pergantian format rapor sebanyak 3 kali.
d. Pola pembelajaran diharapkan mengacu pada KTSP tetapi tetap dilaksanakan Ujian Nasional yang hasilnya menentukan kelulusan sehingga KTSP di kelas akhir SMP praktis tidak jalan.

Solusi
Solusi yang telah dicoba dilaksanakan oleh SMPK Frateran Celaket 21 Malang adalah :
a. Melaksanakan penyempurnaan KTSP setelah dievaluasi setiap akhir tahun. Penyempurnaan RPP dilaksanakan setiap guru pada tiap kegiatan pembelajaran dan akhir tahun. Sedangkan penyempurnaan secara menyeluruh dilaksanakan pada akhir tahun ke-3 pelaksanaan KTSP.
b. Selalu mengikutsertakan guru-guru dalam MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) tingkat kota.
c. Melaksanakan Rapat Kerja(Raker) sekolah setiap akhir tahun untuk mengevaluasi dan memperbaharui KTSP.
d. Mengadakan pelatihan khusus dalam hal pemodelan pembelajaran atau metode-metode pembelajaran mutakhir.
e. Mengadakan pelatihan khusus dalam hal pemanfaatan alat-alat pembelajaran modern.
f. Kepala Sekolah melakukan supervise rutin khusus dalam pelaksanaan KTSP.
g. Tetap mengusulkan pelaksanaan Ujian Nasional hanya sebagai pemetaan kualitas pendidikan, melalui jalur-jalur tertentu.



Kesimpulan

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Namun karena berbagai keterbatasan baik pemerintah maupun lembaga-lembaga pendidikan, proses implementasinya masih belum optimal. Sekolah-sekolah di kota besar seperti SMPK Frateran mengalami berbagai kendala dalam implementasinya. Dapat dibayangkan bagaimana situasi sekolah-sekolah yang terpencil di pedalman-pedalaman dan pulau-pulau yang jauh dari pusat kota.
Belum semua guru mampu, baik dalam hal kecakapan juga dalam hal waktu, untuk mengembangkan kurikulum untuk mata pelajaran masing-masing. Diperlukan strategi untuk melaksanakan KTSP secara konsekuen di seluruh wilayah hokum Republik Indonesia. Untuk itu pemerintah dan segala pihak terkait, seperti Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) serta lembaga-lembaga pendidikan, perlu terus menerus mencari upaya penyempurnaan pelaksanaan KTSP.

Saran

1. Untuk pemerintah :
a. Harus diupayakan kebijakan pendidikan bebas dari pengaruh/kepentingan politik sehingga sungguh-sungguh mengabdi pada masa depan bangsa, khususnya generasi muda.
b. Ujian Nasional tidak perlu dipaksakan hanya demi mencapai kualitas pendidikan yang semu, karena di lapangan Ujian Nasional justru mengakibatkan amburadulnya kegiatan pembelajaran dan proses pendidikan pada umumnya.
c. Jikalau Unian Nasional tetap dilaksanakan, hendaknya tidak menjadi syarat kelulusan tetapi sebagai sarana pemetaan kualitas pendidikan.
d. Pembinaan pengembangan kurikulum kendaknya diberikan kepada semua sekolah tanpa melihat sekolah negeri atau swasta.
e. Pelaksanaan Akreditasi sekolah hendaknya menjadi sarana evaluasi KTSP bagi sekolah yang bersangkutan, sehingga akreditasi sekaligus menjadi sarana pembinaan.

2. Untuk sekolah-sekolah :
a. Diperlukan keberanian melakukan perombakan konsep berpikir, terutama men yangkut pelaksanaan pembelajaran PAKEM.
b. Hendaknya sekolah selalu proaktif mengikuti berbagai seminar dan pelatihan dan melaksanakannya di sekolah, tidak hanya mengejar piagam/sertifikat.
c. Hendaknya guru-guru diikutsertakan dalam MGMP.
d. Hendaknya kebijakan sertifikasi bagi guru-guru dapat dijadikan momen memantau keseriusan guru dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran berkualitas.
e. Hendaknya penilaian kinerja guru dilaksanakan sungguh-sungguh berkaitan dengan implementasi KTSP, bukan hanya sebagai formalitas belaka.


DAFTAR PUSTAKA

Mulyasa.2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep; Karakteristik dan Implementasi. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.
_________. 2009. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan – Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Nana Syaodih Sukmadinata. 1997. Pengembangan Kurikum; Teori dan Praktek. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan.
Permendiknas No. 22, 23 dan 24 Tahun 2007
Sudrajat, Akhmad. 2008. Analisis Situasi Sekolah dalam Pengembangan Kurikulum. Retrieve 23 April 2010 dari http://www.akhmadsudrajat.wordpress.com
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Selasa, 23 Maret 2010

PASCASARJANA KEMBANGKAN PROGRAM INTERNASIONALISASI


DARI tanggal 3 sampai 6 Februari 2010 sebanyak 22 mahasiswa pada Program Studi Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan (MKPP) Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (PPs-UMM), melakukan seminar dan kunjungan akademik ke beberapa lembaga pendidikan di Malaysia dan Singapura. Selama melakukan seminar dan kunjungan, mahasiswa didampingi oleh Prof.Dr. Syamsul Arifin, M.Si dan Dr. Dwi Priyo Utomo, M.Pd.

Menurut Wadir I PPs-UMM, Prof.Dr. Syamsul Arifin, M.Si, kegiatan tersebut sudah dilaksanakan sejak tiga tahun yang lalu oleh mahasiswa MKPP. Jadi, lanjut Syamsul, bersifat bottom up. Syamsul lebih lanjut mengatakan, pihak manajemen PPs-UMM, baik di level pimpinan seperti direktur dan wakil direktur, maupun ketua program studi, bahkan pimpinan universitas, merespons baik kegiatan tersebut. Menurut guru besar sosiologi agama ini, program tersebut patut direspons dengan baik karena memberikan banyak manfaat. Dua manfaat yang ditekankan oleh Syamsul adalah mengembangkan wawasan teoritik dan wawasan empirik. “Mahasiswa pada tingkat magister dituntut memiliki keluasan wawasan teoritik dan empirik. Wawasan pertama bisa diperoleh dari berbagai sumber kepustakaan yang memuat perkembangan teori pada bidang keilmuan tertentu. Sedangkan wawasan kedua merupakan pengalaman yang diperoleh melalui pengamatan dan keterlibatan terhadap berbagai peristiwa”, tegas Syamsul.

Pendapat senada dikemukakan oleh Ketua Program Studi MKPP, Dr. Dwi Priyo Utomo, M.Pd. Menurut doktor pendidikan matematika ini, kunjungan akademik ke beberapa lembaga seperti di Kualalumpur dan Singapura dapat dipandang sebagai salah satu cara untuk mengembangkan wawasan empirik. Apalagi, kunjungan akademik yang dirancang oleh mahasiswa program studi MKPP ini, bukan kunjungan biasa, tetapi kunjungan yang disertai dengan seminar. Pada setiap kunjungan ke suatu lembaga, mahasiswa program studi MKPP, selalu melakukan seminar. Dalam seminar ini, mahasiswa menyajikan makalah dan berdialog dengan mitra lembaga yang dikunjungi. Maka dengan cara demikian, mahasiswa juga dapat menguji wawasan teoritik yang dimilikinya.

Agenda ke Depan
Mengingat pentingnya kegiatan seminar dan kunjungan ke luar negeri, PPs-UMM, menurut Syamsul, Wadir I PPs-UMM, akan menjadikannya sebagai salah satu program unggulan. Syamsul menyebut dengan program internasionalisasi mahasiswa pasca. Di tahun-tahun mendatang, dari sisi keikutsertaan akan diperluas. Jika pada tiga tahun pertama hanya diikuti oleh mahasiswa program studi MKPP, pada tahun-tahun berikutnya seluruh mahasiswa PPs-UMM, baik S2 maupun S3, menurut Syamsul akan di-endorcement untuk mengikuti seminar dan kunjungan akademik ke luar negeri. Melalui program ini, seluruh mahasiswa PPs-UMM, terutama yang sedang persiapan penulisan tesis dan disertasi didorong melakukan seminar di luar negeri. Ketika ditanya masalah pembiayaan, Syamsul menegaskan, pembiayaan tetap dari pihak mahasiswa seperti pengalaman mahasiswa MKPP.
(sumber: pascasarjana.umm.ac.id)

Sabtu, 13 Februari 2010

Hasil C-21 Prestasi - Try Out UASBN 2010


PENGUMUMAN TRY OUT UASBN - C-21 PRESTASI 2010

Jika Anda mengehendaki melihat secara lengkap hasil Try Out UASBN 2010/ C-21 Prestasi SMPK Frateran Celaket 21 Malang 2010, silakan klik berikut :

http://www.ziddu.com/download/8580291/SMPKFRATERANCELAKET21.rar.html

http://www.ziddu.com/download/8580526/SMPKFRATERANCELAKET21.xls.html

Selamat bagi Anda yang berhasil meraih prestasi!

Panitia

PSB 2010/2011



PENERIMAAN SISWA BARU
SMPK FRATERAN CELAKET 21 MALANG
2010/2011

Waktu pendaftaran :
Gelombang I : 4 Febr. - 30 April 2010
Gelombang II : 1 Mei - 30 Juni 2010 (jika masih ada tempat)

Harga formulir : 40.000 (jika beli waktu try out - hanya 20.000)
Berbagai kemudahan :
1. Seleksi berdasar rapor (kelas I - VI).
2. Penghargaan siswa berprestasi :
Prestasi akademik : juara 1,2 dan 3 - bebas SPP 6 bulan
Prestasi non akademik (OR, seni dll) tingkat kota : bebas SPP 3 bulan,
untuk tingkat provinsi/nasional : bebas SPP 6 bulan.
3. Beasiswa : ada kesempatan bantuan biaya pendidikan bagi keluarga sederhana :
bantuan BOS untuk biaya pendidikan, beasiswa BSM dan beasiswa prestasi.
4. Biaya pendidikan menyesuaikan kemampuan orangtua.
5. Fasilitas : gedung dan berbagai fasilitas miliki sendiri.
6. Berbagai kegiatan intra dan ekstra dapat diikuti seluruh siswa.
7. Sarana laboratorium IPA, bahasa, komputer, KIR dan free Wi Fi (hotspot).

Informasi selengkapnya silakan menghubungi kantor TU SMPK Frateran Celkaket 21
Jl., J. A. Suprapto 21 Telp. (0341) 354757 Malang
Setiap Hari Kerja.

C-21 Prestasi


Hampir 700 anak SD se-kota Malang
Padati SMPK Frateran Celaket 21

C-21 Prestasi V Berlangsung Marak

Hampir 700 orang siswa SD kota Malang memadati SMPK Frateran Celaket 21, MInggu 14 Februari 2010. Kegiatan yang bertajuk: C-21 Prestasi on Valentine's Day ini ingin memadukan try out dengan lomba mata pelajaran. Hasilnya tentu bukan sekedar mengukur persiapan menjelang UASBN, tetapi juga sebagai wahana berlomba. Kegiatan ini merupakan even tahunan yang selalu dilaksanakan pada bulan Februari. Meski tidak selalu dikaitkan dengan hari Valentine, tetapi memang rata-rata dilaksanakan sekitar tanggal 14. Pada tahun ini kebetulan C-21 Prestasi dilaksanakan bebarengan dengan perayaan Imlek dan Valentine's Day. Itulah sebabnya nuansa panggung didominasi warna merah Imlek dan pink Valentine.

Begitu besarnya antusiasme siswa SD, sampai-sampai panitiaterpaksa menolak ratusan peserta yang mendaftar pada hari-hari terakhir, mengingat daya tampung ruang sangat terbatas. JIka tidak dibatasi diperkirakan peserta akan menembus angka 900 hingga 1000 orang. Dan untuk melaksanakan kegiatan tersebut panitia memanfaatkan ruangan SMPK Frateran Celaket 21 sekaligus ruangan SDK Mardi Wiyata 1 Frateran Celaket 21. Sejak jal 6.30 peserta sudah berbondong-bondong datang. Tepat jam 07.00 para peserta dikumpulkan untuk menerima penjelasan. Jam 07.30 peserta diarahkan memasuki ruangan masing-masing untuk mengikuti try out yang dimulai tepat jam 08.00

Setelah bergelut melawan soal-soal Bahasa Indonesia, IPA dan Matematika selama dua jam peserta boleh beristirahat sejenak sambil menikmati sajian atraksi dari siswa-siswi SMPK Frateran Celaket 21. Tak ketinggalan siswa-siswi SDK Mardi Wiyata 2 juga menyumbangkan penampilan band dan musik pianika. Pelaksanaan scanning diperkjirakan memakan waktu 2 jam sehingga pengumuman hasil try out diharapkan dapat dilaksanakan paling lambat jam 13.00.

Try Out yang selalu dilaksanakan tanpa biaya alias gratis ini diadakan sebagai upaya sekolah untuk menjalin silaturahmi dengan masyarakat khususnya SD-SD di kota Malang. Kecuali itu kegiatan ini juga sebagai sarana memperkenalkan sekolah kepada masyarakat. Meski SMPK Frateran Celaket 21 berada di pinggir jalan protokol kota Malang ternyata masih banyak yang tidak mengetahuinya. Padahal sekolah ini sudah berusia 61 tahun!
Hal-lain yang perlu disampaikan kepada masyarakat ialah bahwa sekolah yang menempati gedung berusia 81 tahun ini merupakan sekolah umum, yang mnerima siswa dari berbagai kalangan dengan berbagai latar belakang. Prinsip pokok yang dipakai adalah: Tidak boleh ada anak yang terhambat sekolahnya karena masalah ekonomi. Itulah sebabnya sekolah ini sangat peduli dengan program pemerintah mngenai sekolah murah/gratis.

SMPK Frateran Celaket 21, meski sekolah swasta tetapi tetap berani melaksanakan pendidikan bermutu dengan biaya terjangkau. Beberapa kemudahan yang ditawarkan :
1. Calon siswa yang memiliki prestasi juara 1, 2 dan 3 akademik - akan menerima pembebasan SPP selama 6 bulan.
2. Bagi calon siswa yang memiliki prestasi non akademik tingkat kota (juara 1, 2 dan 3) akan menerima pembebasan SPP selama 3 bulan.
3. Bgai calon siswa yang memiliki prestasi non akademik tingkat provinsi/nasional akan menerima pembebasan SPP hingga 6 bulan.

Dari luar gedung ini sangat megah, sehingga banyak orang mengira ini sebagai sekolah mahal, padahal jika orang sudah masuk dan menanyakannya, mereka akan mengetahui bahwa sekolah ini benar-benar peduli dengan situasi orangtua manapun. Sekolah ini memang menempati gedung besar, dan merupakan bagian dari 20 sekolah Mardi Wiyata se-Indonesia yang tersebar dari Palembang hingga kota-kota NTT.

Selamat berjuang tunas-tunas muda! Sukses menanti Anda!

Rabu, 10 Februari 2010

Review jurnal 4:

Menerapkan Teknologi Pendidikan di Pendidikan Tinggi:
Sebuah Pendekatan Strategis
Oleh : Markus Basuki (09370013/MKPP/UMM-2009)


Identitas :
Judul asli : Implementing Educational Technology in Higher Education:
A Strategic Approach
Pengarang : Cynthia Roberts
Jurnal : The Journal of Educators Online, Volume 5, Number 1
Tahun terbit : Januari 2008

Pendahuluan
Kunci kelangsungan lembaga-lembaga pendidikan tinggi adalah mampu bersaing dalam percaturan global. Untuk itu mau tidak mau harus berurusan dengan kemajuan teknologi. Perkembangan alat teknologi yang begitu pesat hendaknya mampu mendorong semua pihak untuk ikut memnfaatkannya, baik untuk belajar, mengajar, juga dalam melakukan penelitian.
Tulisan Cynthia Roberts ini bermaksud menguraikan kerangka kerja untuk pengambilan keputusan strategis yang dapat dimanfaatkan oleh para pendidik untuk tujuan mengembangkan pembelajaran melalui teknologi informasi. Pembelajaran di perguruan tinggi sudah barang tentu mutlak memerlukan peralatan teknologi ini, lebih-lebih untuk system pembelajaran jarak jauh.

Proses perubahan strategis
Perubahan strategis melibatkan tidak hanya memutuskan apa yang harus berubah, tapi bagaimana dan kapan perubahan spesifik elemen strategis satu orientasi.
Proses perubahan strategis meliputi empat langkah dasar sebagai berikut:

Langkah pertama: Analisis strategis
Meskipun penyebab perubahan strategis dalam konteks bisnis tidak terbatas, mereka dapat
diatur ke dalam empat kategori utama: transisi ke ekonomi global, mengubah struktur industri
dan kondisi kompetitif, suboptimal atau menurunnya kinerja organisasi, dan inisiatif stakeholder
Kondisi ini relevan dengan dunia pendidikan tinggi serta dampaknya telah menyebabkan pergeseran dalam cara pencapaian hasil belajar. Di sebagian besar dunia, pendidikan tinggi telah terperosok dalam krisis yang mencampuradukkan tiga hal:
akses, biaya, dan fleksibilitas.
Kemajuan teknologi yang memungkinkan globalisasi masuk dalam dunia bisnis juga memungkinkan adopsi teknologi pendidikan yang dapat meningkatkan akses dengan biaya yang murah dan memfasilitasi belajar di luar kelas tradisional untuk mencapai setiap mahasiswa di seluruh dunia. Namun, peningkatan akses juga mengakibatkan meningkatnya kompetisi untuk
banyak lembaga-lembaga tradisional pendidikan tinggi setelah hambatan geografis tidak lagi ada.

Langkah kedua: menyusun strategi
Pilihan untuk perubahan dapat dirangsang dengan menjawab dua pertanyaan : "adakah perubahan besar yang sedang terjadi dan adakah dampak negatifnya? Berdasarkan sifat lingkungan saat ini seperti yang dijelaskan sebelumnya, jawaban atas pertanyaan pertama adalah tegas, ya. Masalah kinerja Namun, mungkin atau mungkin tidak secara langsung dipengaruhi oleh kondisi saat itu. Keputusan menerapkan teknologi pendidikan selain untuk menentukan luasnya adopsi mungkin tidak hanya tergantung pada permintaan mahasiswa atau peningkatan kompetisi, tetapi juga pada faktor-faktor internal seperti kesiapan fakultas dan struktur organisasi yang berlaku, sistem dan budaya. Meskipun banyak artikel, buku, dan kelompok belajar profesional mendukung penerapan pendidikan teknologi, keterlibatan fakultas dengan teknologi relatif lamban.

Langkah ketiga: desain perencanaan strategis
Pilihan khusus untuk mengejar teknologi baru dan sejauh mana dan kecepatan pelaksanaannya tergantung pada faktor-faktor internal seperti sumber daya, budaya organisasi, kesiapan fakultas dan kecepatan antisipasi hambatan, seberapa jauh cara pandang baru dari status quo, dan faktor-faktor eksternal seperti permintaan mahasiswa, urgensi pelaksanaan, dan sasaran potensial pangsa pasar. Setelah sebuah teknologi baru dimiliki, itu tidak menjamin bahwa fakultas akan menerimanya secara spontan. Antisipasi penolakan dan rencana-rencana untuk bekerja melalui itu seharusnya merupakan bagian integral dari proses desain. Jika organisasi ini bertujuan untuk memperluas jangkauannya ke pasar-pasar baru seperti mahasiswa non-tradisional, eksekutif, pelajar dewasa, atau para pelajar tidak dapat hadir secara langsung, yang berbeda jadwal pelaksanaannya akan sangat dibutuhkan. Strategi ekspansi yang agresif akan jelas memerlukan komitmen yang lebih banyak waktu dan sumber daya dari sekedar layanan "upgrade."

Langkah keempat: Pelaksanaan rencana
Tahap pelaksanaan sebenarnya merupakan saat transisi ke teknologi baru dan termasuk mendukung pengembangan kegiatan seperti jadwal, menentukan peran dan tugas yang akan memandu proses perubahan, mengurangi ketidakpastian dengan mengkomunikasikan apa yang berubah dan mengapa, mengumpulkan komitmen untuk memastikan bahwa ada suatu tingkat kepemilikan tinggi dalam proses, dan mengalokasikan sumber daya untuk dukungan. Mereka anggota fakultas yang telah menunjukkan minat dalam teknologi di masa lalu dapat ikut serta untuk melayani sebagai pemakai awal, model peran, dan akhirnya Menjadi pendukung. Pengadopsi awal dapat juga membantu dalam meningkatkan kesadaran dan penerimaan teknologi baru dengan promosi, memberikan demonstrasi, berbagi praktik terbaik, dan bahkan mungkin melayani sebagai mentor atau konsultan untuk rekan-rekan mereka, serta membantu pemecahan masalah sebagai kesulitan atau pertanyaan-pertanyaan yang pasti muncul.
Manajemen Organisasi "online"
Diperlukan manajemen khusus untuk mengelola perkuliahan jarak jauh dengan teknologi informasi. Sudah barang tentu ada kelebihan dan kekurangan dari setiap program, namun bagaimana lembaga pendidikan mampu melayani segala segmen masyarakat sengan berbagai karakternya, inilah yang ingin diangkat.

Kesimpulan
Meskipun ada banyak faktor seperti meningkatnya kompetisi dan tuntutan mahasiswa untuk mengadopsi teknologi pendidikan, proses untuk melakukan hal itu melibatkan lebih dari sekadar menginstal sebuah produk. Pilihan untuk menerapkan teknologi baru dan sejauh mana kecepatan adopsi tergantung pada faktor-faktor internal seperti : sumber daya, budaya organisasi, fakultas kesiapan, tingkat mengantisipasi perlawanan, dan tingkat varians dari status quo.
Menggunakan kerangka yang diuraikan dalam artikel ini yang mencakup analisis, strategi pembuatan, desain dan mplementasi, dapat membantu pendidik membuat keputusan dan memfasilitasi perubahan dengan cara bekerja di dalam sistem mereka, pada akhirnya meningkatkan kemungkinan keberhasilan. Dalam kasus ini, setelah keputusan itu dibuat oleh kelompok untuk menawarkan serangkaian kursus online, sebuah rencana untuk pelaksanaannya memberikan proses untuk melakukannya, bahkan ketika terkendala oleh keterbatasan sumber daya yang cukup besar sekalipun. Hal ini dilakukan melalui urutan format transisi dari tradisional ke elektronik, memungkinkan masing-masing anggota staf pengajar untuk mengembangkan kompetensi dari waktu ke waktu sesuai dengan kesanggupannya.

Review 3:

PEMANFAATAN ICT DALAM PEMBELAJARAN
Oleh : Markus Basuki (09370013/MKPP/UMM-2009)


Identitas :
Judul asli : PEMANFAATAN ICT DALAM PEMBELAJARAN
Pengarang : Ace Suryadi
Jurnal : Jurnal Pendidikan Terbuka Vol. 8 No. 2
Tahun terbit : September 2007

Pendahuluan
Sistem pembelajaran konvensional di sekolah kian diyakini sebagai sistem yang tidak efektif lagi. Konsep-konsep kemampuan otak, kecerdasan, dan kreativitas telah berkembang pesat dan makin menguatkan argumentasi yang ingin mengoreksi kelemahan sistem pembelajaran konvensional. Teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences), yang dikemukakan oleh Howard Gardner pada 1983 (dalam Armstrong, 2004), dipandang sebagai konsep pendekatan pembelajaran yang lebih objektif dalam menggali atau mengembangkan kemampuan setiap individu siswa sesuai dengan potensi atau kecerdasan orisinalnya. Gardner mengatakan bahwa kecerdasan orisinal (bakat) setiap individu itu berbeda-beda, yang dikelompokkannya ke dalam 8 jenis kecerdasan: linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetis-jasmani, musikal, intrapersonal, interpersonal, dan naturalis. Oleh karena itu, menyeragamkan cara pembelajaran dengan satu pendekatan yang monoton dan statis—seperti dalam cara-cara belajar konvensional—tidak memberikan kondisi yang terbaik (optimum) untuk mengembangkan kemampuan semua siswa. Konsep-konsep dan teori-teori mutakhir mengenai otak dan kecerdasan tersebut memperkaya pemikiran kita dan sangat bermanfaat untuk memperbarui sistem pembelajaran atau mencari model persekolahan terbaik di masa depan.

REFORMASI PEMBELAJARAN
Berkembangnya pemikiran-pemikiran tentang sistem pendidikan atau model pembelajaran yang terbaik untuk masa depan—yang didahului dengan berkembangnya teori dan pengetahuan mengenai otak dan kecerdasan manusia—pada dasarnya merupakan dinamika dari obsesi untuk menggelar reformasi pembelajaran (school reform).
Dari teori-teori yang berkembang dan praktik-praktik di berbagai negara, dan dalam rangka melaksanakan gerakan pembaruan pendidikan, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada dua aspek pembaruan yang penting, sebagai berikut:
1. Pembaruan pendekatan pembelajaran, yang menyangkut esensi, materi dan metode pembelajaran. Pembaruan ini dilantari oleh berbagai temuan/teori/konsep baru yang berkembang
mengenai otak dan kecerdasan, dan dipicu oleh perubahan multidimensional dalam lingkungan
hidup dan kehidupan yang menuntut komitmen dan kemampuan manusia (SDM) yang makin
tinggi,
2. Pemanfaatan teknologi informasi/komunikasi yang sudah sedemikian canggih untuk menunjang keberhasilan pembaruan strategi dan teknik pembelajaran.

PEMBARUAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN
Dryden dan Vos (2003) menyimpulkan dari hasil penelitian dan observasi mereka di seluruh dunia bahwa dalam setiap sistem pendidikan yang terbukti berhasil, citra diri ternyata lebih penting dari pada materi pelajaran. Tolok ukur sesungguhnya dari sistem pendidikan masa depan, dengan demikian, adalah seberapa besar mampu membangkitkan gairah belajar secara menyenangkan. Hanya dengan pendekatan inilah, setiap siswa akan terdorong untuk membangun citra diri positif yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka. Menurut Dryden dan Vos, kurikulum pendidikan sebaiknya disusun dalam empat tingkat, dan keempatnya saling mendukung dan melengkapi, sebagai berikut.
1. Citra diri dan perkembangan pribadi
2. Pelatihan keterampilan hidup
3. Belajar tentang cara belajar dan cara berpikir
4. Kemampuan-kemampuan akademik, fisik, dan artistik yang spesifik
PEMANFAATAN TEKNOLOGI
Seperti telah dibahas, pembaruan pendidikan sudah dilaksanakan di banyak negara. Pembaruan itu selalu melibatkan pemanfaatan teknologi yang menjadi bagian integral dari pembaruan pembelajaran. Berikut ini adalah contoh komitmen dari dua negara di Asia dan Amerika Serikat yang mempersiapkan teknologi informasi sebagai bagian dari proses pembelajaran modern.

REFORMASI PENDIDIKAN
Dunia pendidikan harus melakukan modernisasi dengan melakukan inovasi-inovasi yang memang relevan untuk menghadapi tantangan masa depan. Di masa mendatang, kita menghadapi
dinamika perubahan yang makin cepat, intensif, dan kompleks; munculnya berbagai masalah yang makin serius akibat kerusakan lingkungan hidup, eksploitasi sumber daya alam, ketimpangan kemakmuran, ketidakadilan, agresi politik, kompetisi. Semua masalah ini membutuhkan pemikiran dan tindakan yang makin cerdas, kreatif, kritis, dan bijaksana. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan yang baik, yaitu yang dapat menghasilkan manusia-manusia yang tidak saja mampu berpikir dan bertindak responsif, tetapi juga antisipatif dan proaktif terhadap perubahan. Reformasi pembelajaran pada hakikatnya ingin memperbaiki cara-cara belajar di sekolah atau di mana pun agar anak-anak didik kita lebih cerdas, kreatif, kritis, dan bijaksana dalam berpikir dan bertindak, daripada anak-anak didik yang dihasilkan oleh sekolah-sekolah konvensional. Dengan reformasi ini, kita berharap anak-anak didik kita lebih mampu mengenali diri mereka, menumbuhkan karakter dan pribadi mereka secara mandiri (self concept), dan mengembangkan kemampuan intelektualnya dalam konteks kekinian yang dinamis dan progresif, sehingga mereka sanggup survive, bahkan leading dalam persaingan.

PENNTUP
Reformasi pembelajaran dibutuhkan untuk melakukan pembaruan sistem pembelajaran konvensional yang dinilai sudah usang dan tidak relevan dengan dinamika perubahan zaman yang makin cepat dan intensif. Dinamika perubahan itu dipacu oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga sistem pendidikan lama dianggap tidak lagi mampu menghasilkan lulusanlulusan yang memiliki kapasitas dan kemampuan yang sesuai dengan tuntutan-tuntutan zaman baru.
Penulis mencatat sembilan poin penting (key words) untuk melakukan reformasi pembelajaran yang efektif, sebagai berikut:
1. penekanan aspek mental dan pribadi
2. memahami cara belajar dan cara berpikir
3. orientasi pada kecakapan hidup
4. mendorong lingkungan belajar konstruktivis
5. memasukan aspek kecerdasan majemuk dalam pembelajaran
6. menekankan tugas-tugas autentik daripada subyek invidual
7. guru sebagai fasilitator, bukan sumber tunggal pengetahuan
8. mengintegrasikan teknologi
9. dukungan politik, manajemen, dan sumber daya