Minggu, 21 Februari 2016

MENSYUKURI INDONESIA



MENSYUKURI INDONESIA
Mengintip dari Pelataran Pendidikan
Markus Basuki


Pengantar
Bila kita berhitung tentang sikap/suasana hati terhadap negeri ini (dan para pemimpinnya), mana yang lebih dominan: mengeluh, mencerca, kecewa, mengumpat, merana, geram, dan putus asa (negatif), atau bangga, bersyukur, senang, memuji, mendukung, dan berpengharapan (positif)? Coba pula kita teropong komentar para tokoh lewat media masa, bisa jadi kita pusing sendiri! Tak terhitung jumlahnya komentar menyudutkan, tak terbilang juga yang mendukung dan memuji.
Bila kita pandangi kenyataan, memang benar, jika kondisi negeri kita sekarang ini belum gemah ripah loh jinawi. Benar kiranya jika selama berkali-kali ganti pemimpin, masih banyak permasalahan bangsa mencuat ke permukaan, yang memusingkan seluruh kepala! Bila Anda seorang guru, dan mesti menggambarkan kondisi negeri kita, apa yang akan Anda katakan kepada peserta didik? Anda lebih menonjolkan kebobrokan-kebobrokan, atau lebih menekankan kehebatan, kebanggaan dan kekayaan bangsa kita? Anda akan mewariskan kekecewaan mendalam, ataukah suatu pengharapan yang kokoh? Sabar, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak usah tergesa dijawab!

Melihat dengan mata
            Amerika Serikat sering  disebut sebagai negara super power.  Mereka  memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas tinggi, menguasai teknologi modern, memiliki daratan luas dan kini mampu menguasai perekonomian dunia. Untuk itu mereka membutuhkan  ratusan tahun setelah merdeka. Memasuki usia 70 tahun, kenyataannya negeri kita belum menjadi super power! Modal sudah mencukupi: SDM berkualitas (=orang pandai) melimpah, Sumber Daya Alam (SDA) tanpa tanding, serta memiliki daratan dan lautan yang sungguh tak terbilang luasnya. Namun, ibarat berdagang, meski modal sangat besar nyatanya kita bangkrut, karena belum mampu mengelola modal tersebut.
            Litani permasalahan yang sudah dihafal setiap kepala adalah: kekayaan alam dikuasai segelintir / sekelompok manusia, dan memberikan kelimpahan hanya bagi kalangan tertentu. Bahkan kekayaan alam yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak justru dikuasai perusahaan-perusahaan asing!, nilai tukar rupiah cenderung merosot, pengangguran (intelektual) melimpah, korupsi merajalela, harga-harga makin tak terjangkau oleh rakyat kecil, dan kejahatan-kejahatan tumbuh subur! Negeri ini begitu rentan dilanda krisis: krisis ekonomi, krisis nasionalisme, krisis kepemimpinan, krisis kepercayaan dan krisis SDM berkualitas. Kebanggaan sebagai bangsa yang besar belum nampak, baik di dalam, apalagi di luar negeri. Media masa lebih dominan menyiarkan / memberitakan kejahatan, ketimpangan masyarakat, serta tontonan glamour dan penuh intrik daripada memberikan sajian yang menyejukkan hati. Para pemimpin kebanyakan hadir sebagai sosok penguasa yang haus kekayaan daripada pelayan masyarakat.  Inilah potret negeri kita sekarang! Kita tidak bisa menyalahkan siapa memotret, sudut pandang dan alat yang digunakan, serta hasil potretannya, meski yang terpotret masih sebatas kulit luarnya.


Melihat dengan hati
            Benarkah wajah bangsa besar ini begitu buram? Jangan-jangan kacamata yang kita pakai memang kaca gelap? Ataukah kita belum cukup sabar untuk menyaksikan kebangkitan negeri ini menjadi Negara besar? Tiga puluh tahun lagi kita memasuki masa seabad kemerdekaan! Para cerdik pandai mencoba membaca pengharapan dengan logika. Saat ini bangsa kita tengah memasuki masa-masa keemasan SDM: bonus demografi! Kondisi ketika tenaga kerja produktif jauh lebih besar ketimbang tenaga kerja tak produktif, kondisi yang jika digarap dengan baik akan menjadi berkah melimpah! SDM berkualitas sesungguhnya melimpah, hanya mesti dipoles dan dibentuk menjadi SDM unggul dengan sentuhan karakter. Jika SDM digarap dengan baik saat kita mendapat bonus demografi dari Tuhan, maka akan menjadi kekuatan luar biasa bagi bangsa untuk menjadi bangsa super power! Tetapi, salah mengelola SDM, bonus demografi justru akan menjadi bencana. Sumberdaya alam kita melimpah ruah, bahkan menjadi incaran setiap bangsa. Sekarang ini sedang ada gerakan kuat untuk menyiapkan generasi berkualitas yang mampu mengelola segala kekayaan bangsa untuk bangsa. Memang, gerakan itu masih sering dihambat oleh sejumlah oknum yang lebih mementingkan diri dan kelompoknya, daripada memikirkan bangsa. Namun, optimism tetap harus didahulukan. Kini juga sedang ada kekuatan besar tak kasat mata yang sedang berjuang untuk kejayaan bangsa!
            Pandanglah, betapa negeri ini sungguh “Bhinneka Tunggal Ika”! Meski beraneka suku, ras, agama, serta status sosial ternyata bangsa ini dapat bersatu, rukun dan damai dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia! Orang sering membuat perbandingan bangsa kita dengan kondisi Timur Tengah. Negara-negara Timur Tengah itu bisa dikatakan: satu daratan luas, satu bangsa, satu bahasa, satu peradapan, satu iklim dan satu budaya. Namun nyatanya mereka terkotak-kotak menjadi sekian banyak kelompok yang saling bertikai dan berperang. Carut marut kenyataan yang sifatnya “sesaat” dan sporadis kadang menutup kehebatan yang besar. Kondisi tak menyenangkan yang sesaat sering mengaburkan harta kekayaan abadi! Mungkin kita perlu belajar membaca dengan kaca bening. Mungkin kita perlu belajar berkaca dengan cermin datar, bukan cermin cembung dan cekung. Mungkin kita perlu belajar melihat dengan hati!

Sudut pandang pendidikan
            Masih segar dalam ingatan kita, beberapa tahun silam sejumlah besar pendidik berbondong-bondong unjuk gigi dan unjuk rasa untuk mencoba membendung lahirnya produk hukum yang dinilai akan memberangus lembaga-lembaga pendidikan katolik: UU Sisdiknas! Lalu dalam dua dasawarsa terakhir kita dicemaskan dengan kondisi pendidikan katolik yang dinilai mengalami kemunduran kualitas dan kuantitas. Bahkan para Bapa Gereja sendiri menengarai sedang terjadi disorientasi pendidikan katolik. Kesadaran ini, meski kadang terlambat datang, telah mendorong para insan pendidikan untuk mengembalikan jati dirinya. Kini tengah terjadi upaya menemukan kembali “roh” yang hilang tersebut. Roh itu adalah kekhasan sekolah katolik untuk setia pada usaha mencerdaskan bangsa; setia pada ketentuan-ketentuan Gereja; dan setia pada spiritualitas pendiri (Nota Pastoral KWI 2009). Impikasinya adalah: pendidikan yang ”melayani”, ”memerdekakan”, dan ”membawa damai”! Kini dunia pendidikan katolik kembali pada jati dirinya untuk ikut membentuk manusia integral (Kitab Hukum Kanonik, kan. 795), yakni subjek didik yang memiliki sikap: religius, budi luhur, adil, demokratis, toleran, mandiri, tanggung jawab, disiplin, solider, loyal, tangguh, cerdas, terampil, dinamis dan optimis (Gravisimum Educationis,  art. 1, 2). Cetak biru pendidikan katolik ini harus dipajang kembali di setiap hati!
            Ketika dunia pendidikan katolik masih mencoba meramu kembali konsep pendidikan yang unggul sesuai jati dirinya, kita dihadapkan pada kondisi konkret di lapangan. Banyak lembaga pendidikan katolik mulai ditinggalkan masyarakat (bahkan ditinggalkan umat katolik sendiri!). Sejumlah lembaga pendidikan katolik ditutup karena tidak mampu beroperasi lagi. Gerakan “Pendidikan Gratis” atau “Pendidikan Murah” yang dicanangkan pemerintah, dibarengi dengan tak terkendalinya penerimaan peserta didik pada sekolah-sekolah pemerintah telah mematikan lembaga-lembaga pendidikan katolik. Kini lembaga-lembaga katolik dihadapkan pada dilematika (bahkan: trilematika): pelayanan kaum miskin, menjaga kehidupan dan menjaga kualitas layanan! Ketika suatu lembaga mengutamakan pelayanan semata, dia tidak dapat menghidupi dirinya, namun saat dia menjual mahal layanannya, dia akan ditinggalkan pelanggannya.
            Di luar masalah-masalah tersebut ada hal penting yang harus dipegang oleh setiap insan yang peduli masa depan bangsa. Siapapun kita, pendidik di sekolah atau orangtua di rumah, memiliki kewajiban moral yang super penting: menyiapkan generasi berkualitas! Bagaimana caranya? Caranya adalah, tanamkan semangat dan pengharapan pada setiap dada generasi muda! Jangan cekoki jiwa orang-orang muda dengan berbagai kebobrokan, tetapi isilah hati mereka dengan benih masa depan : semangat juang, dan keyakinan diri. Tugas pendidik adalah membentuk jiwa pejuang, bukan pecundang, membentuk jiwa berpengharapan, bukan jiwa putus asa! Berbagai permasalahan bangsa yang selalu digembar-gemborkan para pemain politik tidak boleh mengganggu upaya menyiapkan generasi emas kita, generasi “bangsa besar”, generasi seratus tahun Indonesia! Jadikan momentum bonus demografi sebagai momentum kebangkitan bangsa. Dan itu bisa kita persiapkan!

Mewariskan harapan
            Benar adanya, bahwa semuanya dimulai dengan syukur! Syukur yang sejati akan membawa kita pada kondisi “tahu diri.”  Bila “virus syukur” ini telah menyebar pada setiap insan, maka semuanya akan baik adanya, bahkan sangat baik adanya. Maka tugas kita adalah menularkan “virus syukur” itu pada setiap orang yang kita jumpai, terlebih generasi penerus. Dengan berbekal hati yang penuh syukur, pikiran, perkataan dan perbuatan akan lebih mudah dikendalikan. Sangat banyak hal yang harus selalu kita syukuri: negeri, kemerdekaan, suasana damai, rasa aman. Demikian pula para pemimpin yang baik, orangtua, teman dan sahabat perlu disyukuri. Kekayaan alam, rejeki, kesempatan bekerja dan belajar juga perlu disyukuri. Demikian pula sejumlah besar lainnya menunggu kesadaran kita untuk mensyukurinya. Betapa indahnya jika rasa syukur itu dimiliki setiap insan!
            Di kalangan pendidik ada keyakinan yang rata-rata sama: kita tidak bisa mengubah kondisi sekarang ini, tetapi kita bisa menyiapkan perubahan untuk generasi mendatang. Itulah tugas pendidik dan para orangtua: menyiapkan generasi perubahan! Bagaimana caranya? Dimulai dari anak-anak usia dini: suapi keseharian mereka dengan suasana batin yang damai dan penuh kasih, jangan jejali dengan tontonan keras, apalagi menonton kekerasan orang-orang dekatnya, termasuk orangtuanya. Anak-anak sekolah: sajikan kesempatan belajar tentang banyak hal, dalam suasana tenang dan senang. Pembelajaran dan pergaulan yang menyenangkan di sekolah, di rumah dan di masyarakat akan memumpuk pengharapan akan masa depan yang cerah. Kondisi keluarga yang carut-marut, tanpa dikonsep pun akan menanamkan konsep kuat pada anak-anak akan masa depan yang carut-marut! Biarkan anak-anak mengalami suka - duka, kemudahan - kesulitan dalam pergaulan dan pembelajaran sehari-hari, dalam kerangka kondisi keluarga yang harmonis. Karena dari sana mereka akan terbentuk menjadi pribadi yang kuat, kokoh, dan selalu ceria. Pengalaman membuktikan, anak-anak yang sering melakukan kekerasan kepada teman-temannya, ternyata karena terbiasa mendapat kekerasan dalam keluarganya (dan mungkin di sekolahnya).
            Mensyukuri bangsa ini, mensyukuri kemerdekaan negeri ini ternyata salah satunya bisa melalui ini: ikut menyiapkan generasi mendatang dengan baik. Menyiapkan generasi yang baik dapat dilakukan siapa saja: orangtua, guru, pemuka agama, pemuka masyarakat dan setiap orang. Yang menjadi prioritas kita sekarang adalah menanamkan mindset baru pada orang-orang muda kita, bahwa mereka adalah pemilik masa depan bangsa, mereka memiliki kemampuan lebih untuk menjadi “pemilik” masa depan. Dan untuk itu sadarkan mereka bahwa dengan memiliki keyakinan dan kesadaran akan masa depan yang cerah akan mendorong munculnya energi hidup dalam diri mereka untuk bekerja keras, berjuang keras, dengan tulus dan jujur. Ibarat biji tanaman, kesadaran, keyakinan, niat kuat dan kegembiraan akan berkembang menjadi kekuatan besar untuk sukses di masa depan. Tanamkan kepada orang-orang muda bahwa bersyukur itu tidak cukup dengan mengucapkan doa, tetapi lebih nyata dalam bentuk komitmen dan tindakan. Ketika kita memasuki usia seratus tahun bangsa ini, tiga puluh tahun mendatang, ketika melihat negeri ini telah berubah menjadi kokoh kuat, gemah ripah loh jinawi, ketika kita boleh menyaksikan lahirnya “Generasi Kencana” syukur kita menjadi semakin sempurna!(Malang, 2015)

Selasa, 27 Januari 2015

Guritan "GURU"



Markus Basuki
G U R U

Wit sakawit wus kawuwus,
pinilih mrih nyapih,
jiwa remuk rempu ing regeman surem,
kurban jaman owah dledah,
dimen rahayu slamet jroning rangkah,
aywa bubrah dadi sangkrah!
Nadyan abot ing sanggan,
minangka patuladhan,
jer bisa ginugu lan tiniru!

Glidhig Senen nganti Setu,
yen Minggu turu, ... candrane  ngakathah!
Nanging ... iku dudu!
Jiwa raga,  ... otot bayu, ... balung getih ...
wus nyawiji ing ombyaking sih,
mring janma tumaruna!
Nadyan ringkih ing raga,
nadyan pepes ing jiwa,
guru, ... lir kartika ing langit grahana!
Yen cewet murang trapsila ,
wagu lan saru ing solah jantra,
ywa cinucuh ginuyu,
mung donga pamuji ing wardaya!

Guru ...
Gedhe urube, resik uripe!
Gentur tapane, kusuk dongane.
Singkirana malima!
Jejeg ing adil, lempeng ing cipta,
bregas ragane, suci jiwane,
mung daya-daya nggembleng generasi kencana,
tumuju bangsa mardika!
Sinambi nunggu titiwanci sinuru ...!!

Malang, 19 Januari 2015

Senin, 22 Desember 2014

Artikel/Reungan Natal 2014



IKLAS MEMBERI DAN BERKELIMPAHAN
Markus Basuki


Kalau orang mengetahui rahasia ini, mungkin tidak akan terdengar lagi: panitia Natal kekurangan dana, kolekte kecil, pembangunan gedung paroki mandeg, HR pegawai kecil, dan sejumlah keluhan lain. Kalau semua orang mengetahui rahasia ini, mungkin hidup akan lebih berbunga-bunga, tidak ada lagi: penipuan berkedok arisan, pemerasan dan penodongan, perampasan dan perampokan, dan sejumlah kejahatan lainnya. Sebaliknya, orang akan berlomba-lomba berbuat baik, orang akan berlomba-lomba memberi dengan penuh iklas untuk orang lain!!

Seorang guru spiritual sedang menghadapi kliennya, seorang pengusaha yang datang jauh-jauh untuk meminta nasihat sehubungan dengan usahanya yang mengalami kebangkrutan total. Tidak ada lagi yang tersisa dari jerih payahnya selama bertahun-tahun. Semuanya ludes! Perusahaannya mengalami kerugian besar setelah tertipu rekan bisnis, lalu terjadi kebakaran hebat atas pabriknya. Dan yang terakhir istri dan orang-orang dekatnya meninggalkan dia seorang diri dalam keadaan hancur!
Sang guru spiritual berdiam diri sejenak, menghela napas kemudian berkata, “Berapa banyak saudara sudah memberi?”

Meminta dan memberi adalah suatu keseharian yang sangat lumrah, begitu lumrahnya hingga orang tidak menganggapnya lagi sebagai sesuatu yang penting. Padahal, banyak sisi kehidupan menjadi lebih benderang karenanya. Katakanlah satu contoh kecil, sebuah kesuksesan ada di depan mata setelah seseorang meminta kepada-Nya dan Dia memberinya. Namun pernahkah seseorang menyadari lebih dalam, setelah suatu keinginan tercapai? Acapkali begitu mudah melupakan peristiwa “meminta – diberi” tersebut. Ucapan terima kasih dan syukur kadang hanya menjadi ritual penutup yang segera dilupakan.
Maksudnya adalah, setelah seseorang telah diberi sesuatu yang besar dan berharga, adalah rencana tindak lanjut (RTL) atas peristiwa itu? Atau mungkin RTL-nya adalah sekedar “kapan meminta lagi.”

Sedikit merenung lebih dalam, mengapa banyak orang merasa diri tidak “dikabulkan” permintaannya. Mengapa banyak orang merasa gagal, meski sudah melakukan doa novena dan ritual-ritual lainnya. Sebenarnya, kita bisa ulang lagi kata-kata sang guru spiritual, “berapa banyak kamu sudah memberi?”
Bila kita hitung-hitung dengan jujur, dalam doa kita hampir dipastikan, “meminta” jauh lebih dominan dibanding “siap memberi.”  Nah, di sinilah masalahnya: kita kurang mau memberi!!

Carilah dahulu Kerajaan Allah ...
Ada rahasia besar di balik Sabda Tuhan dalam Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Mengapa Tuhan melarang kita kawatir? Mengapa Dia begitu yakin dengan “sesuatu” yang akan kita dapat bila telah menjalankan pencarian Kerajaan Allah dan kebenarannya? Apakah keYAKINan Yesus itu juga membuat kita YAKIN? Barangkali memang begitu banyak harta berharga di balik kata-kata Kitab Suci, sehingga mutiara rahasia dalam Mat 6:33 itu seolah terlupakan.
Mencari Kerajaan Allah adalah mencari Yesus sendiri, mencari Yesus adalah mencari dan melaksanakan amanat-Nya: Mengasihi Allah dan sesama. Mengasihi Allah dan sesama adalah memberikan diri. Jadi, pencarian Kerajaan Allah akan berhasil ketika kita memberikan diri. Dan ketika kita berhasil memberikan diri, sesungguhnya memberikan harta dan uang hanyalah soal kecil.
Lalu, apa yang akan ditambahkan kepada kita, bila telah mendahulukan Kerajaan Allah? Tentu bukan sekedar makanan, minuman dan pakaian. Kelimpahanlah yang akan diperoleh siapa saja ryang telah mendahulukan kerajaan Allah. Sebab Dia datang supaya kita mempunyai hidup dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Sabda Tuhan adalah kebenaran!!

Memberi = menerima berlimpah
Logika dangkal, yaitu kerja pikiran yang tergesa tanpa permenungan barangkali akan menyimpulkan: Semakin memberi, semakin bangkrut! Semakin banyak mengeluarkan dana untuk orang lain, semakin kecillah pundi-pundi kekayaannya!
Tetapi pernahkan kita berpikir, mengapa orang-orang sukses, meski mengalami bencana kebakaran, kebanjiran, dan bencana-bencana besar lainnya, dalam waktu singkat dapat bangkit kembali, bahkan mampu menjadi lebih besar dari sebelumnya? Mereka telah menemukan rahasia ini! Bahkan mereka yang tak mengenal Alkitab pun banyak yang telah menemukan dan menghayati rahasia ini: Dengan banyak memberi secara iklas, maka kita akan menerima berlimpah ruah!
Telah banyak dibuat seminar, workshop atau pelatihan-pelatihan untuk memahami dan menghayati rahasia tersebut. Ribuan orang penting dari berbagai perusahaan dan lembaga berduyun-duyun mendatangi acara tersebut, untuk sama-sama menemukan rahasia hidup berkelimpahan. Dan untuk itu mereka dengan iklas dan sukacita merogoh kocek jutaan hingga puluhan rupiah. Sebuah pertanyaan menggelitik: Maukah kita mengeluarkan uang pribadi jutaan rupiah untuk “sekedar” mengikuti seminar?? Kenyataannya, banyak orang telah lebih dahulu menutup pintu hati, sebelum tamu datang. Dan ketika tamu datang membawa berkah, hati kita terlanjur tertutup rapat!!

Menabur dan menuai
Ketika sebutir biji jatuh ke tanah, tanpa kita sadari telah terjadi proses alamiah yang dahsyat! Kita sadari atau tidak, kita kehendaki atau tidak biji tadi akan tumbuh dan tumbuh, dari kecil  menjadi sedang, lalu menjadi besar dan sangat besar!  Demikian pula bila Kerajaan Allah sudah kita ketemukan, dari yang semula kecil tanpa kita sadari akan menjadi sangat besar!! (Mrk 4:31-32). Sesungguhnya hukum tabur – tuai, tidak hanya ditemukan dalam Kitab Suci, tetapi sudah merupakan hukum alam. Apa yang telah ditabur, akan tumbuh menjadi besar dan dituai. Maka tidak salah ada pepatah: Siapa menabur angin, akan menuai badai!
Perbuatan - entah baik atau jahat – itu seperti biji yang terjatuh ke tanah. Disadari atau tidak, dikehendaki atau tidak, ia akan bertumbuh menjadi besar dan besar sekali. Maka, memelihara perbuatan jahat dalam hati sungguh berbahaya bagi masa depan seseorang. Mengapa tidak memelihara perbuatan baik saja, yang sudah jelas-jelas akan bertumbuh menjadi kebaikan yang besar??
Memberi dengan iklas dan tanpa pamrih, sudah jelas tergolong perbuatan baik. Bila ini menjadi sebuah kebiasaan dan disadari dengan sepenuhnya, maka akan menjadi sebuah bibit tanaman yang subur. Kita tidak usah menghitung-hitung, berapa biji telah ditabur, tidak perlu berhitung  berapa besar panenan akan diperoleh. Karena perbuatan iklas dan tanpa pamrih tidak pernah memperhitungkan hasilnya. Maka, Sabda Tuhan: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” tidak boleh diterjemahkan sebagai: “Aku akan memberi banyak SUPAYA Tuhan membalasnya berlimpah”!

Hati dan pikiran iklas
Nah, bagaimana melogikakan kebenaran Sabda Tuhan? Pertama-tama Sabda tidak boleh  ditangkap dan diolah hanya dengan nalar! Sabda harus diinternalisasikan ke dalam HATI! Artinya, Sabda itu diimani sepenuhnya melalui kepasrahan hati, bukan melalui kebenaran logika nalar. Namun, ternyata bila dinalar semakin dalam dalam kepasrahan, rahasia Sabda Tuhan ternyata melebihi daya nalar manusia! Kehebatan daya nalar manusia tidak mampu memecahkan rahasia Sabda, tetapi Sabda seringkali justru mampu memecahkan kebuntuan daya nalar manusia!
Sabda Tuhan tetap adanya. Ilmu pengetahuan selalu berkembang! Nah, Sabda yang semula sulit dicerna oleh nalar itu sedikit demi sedikit terkuak oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Sekali lagi, kebenaran Sabda tidak bisa dijajagi oleh kemajuan ilmu pengetahuan, namun kemajuan seringkali diterangi oleh kedalaman dan keagungan Sabda Tuhan.

Dikalimatkan secara sederhana, tema kita ini adalah: Jika kita memberi dengan iklas, maka kita akan berkelimpahan! Iklas itu tanpa pamrih, tanpa mengharap balasan. Menurut ilmu Fisika Quantum, ada hukum tarik menarik antara hal-hal yang sejenis. Perbuatan adalah energy, yang akan dipancarkan ke luar. Perbuatan baik, dengan demikian berarti akan memancarkan energy baik. Nah, energy yang terpancar keluar tadi akan berbalik dengan membawa energy serupa. Gampangnya, ketika kita memancarkan energy positif keluar, energy positif kita akan bertambah! Ketika kita mempertahankan rasa gembira, maka kegembiraan kita akan berlipat. Namun ketika kita memelihara rasa sedih dalam diri kita, kesedihan itu akan bertambah! Memberi dengan sukacita akan mendatangkan sukacita besar karena kelimpahan. Sukacita karena kelimpahan ini sungguh di luar perhitungan manusiawi. Seperti halnya panenan melimpah seringkali di luar perhitungan.
Jadi, buat apa memelihara perbuatan jahat, kalau ternyata hanya akan membuat hidup semakin sengsara? Lebih baik memelihara perbuatan baik, yang akan membuat diri kita semakin bahagia dan berkelimpahan.

Kembali ke masalah memberi dan menerima. Mungkin banyak di antara kita yang masih terlalu menghitung-hitung secara matematis sebelum memasukkan uang ke dalam kantong kolekte, amplop Aksi Natal, iuran paroki atau pesembahan lainnya. Kondisi tersebut justru memberi beban baru berupa kekawatiran akan kekurangan uang atau kesulitan ekonomi. Sebaliknya memberi dengan iklas sambil bersyukur atas kelimpahan dari Tuhan, sungguh akan menghadirkan perasaan damai dan sukacita. Secara matematis kolekte dalam gereja katolik masih sangat jauh dari konsep “persepuluhan” seperti tercantum dalam Kitab Perjanjian Lama. Namun, soal jumlah memang tidak menjadi ukuran keiklasan hati. Tetapi bila mau jujur, kelonggaran gereja katolik dengan memberi kepercayaan umat untuk memberi sesuai dengan keiklasannya justru sering dijadikan dalil untuk memberi ala kadarnya, alias sedikit! Nah, kalau memberi kepada Gereja alias umat alias Tubuh Tuhan dengan ala kadarnya, pantaskah menuntut Tuhan memberi dengan kelimpahan??


Terakhir, sebagai simpulan, memberi tanpa pamrih dengan iklas, tanpa menghitung-hitung, akan mendatangkan kelimpahan. Sabda Tuhan memberi dasar dan ilmu pengetahuan membuktikannya. Sindrom peralihan dari Gereja Misi menuju Gereja Mandiri tidak boleh menjadi alasan gereja Katolik tidak mandiri. Umat harus diberdayakan! Sekali lagi : Iklas memberi dan Berkelimpahan! Selamat memberi persembahan! Tuhan memberkati dengan kelimpahan!

Malang, 23 Desember 2014