Senin, 22 Desember 2014

Artikel/Reungan Natal 2014



IKLAS MEMBERI DAN BERKELIMPAHAN
Markus Basuki


Kalau orang mengetahui rahasia ini, mungkin tidak akan terdengar lagi: panitia Natal kekurangan dana, kolekte kecil, pembangunan gedung paroki mandeg, HR pegawai kecil, dan sejumlah keluhan lain. Kalau semua orang mengetahui rahasia ini, mungkin hidup akan lebih berbunga-bunga, tidak ada lagi: penipuan berkedok arisan, pemerasan dan penodongan, perampasan dan perampokan, dan sejumlah kejahatan lainnya. Sebaliknya, orang akan berlomba-lomba berbuat baik, orang akan berlomba-lomba memberi dengan penuh iklas untuk orang lain!!

Seorang guru spiritual sedang menghadapi kliennya, seorang pengusaha yang datang jauh-jauh untuk meminta nasihat sehubungan dengan usahanya yang mengalami kebangkrutan total. Tidak ada lagi yang tersisa dari jerih payahnya selama bertahun-tahun. Semuanya ludes! Perusahaannya mengalami kerugian besar setelah tertipu rekan bisnis, lalu terjadi kebakaran hebat atas pabriknya. Dan yang terakhir istri dan orang-orang dekatnya meninggalkan dia seorang diri dalam keadaan hancur!
Sang guru spiritual berdiam diri sejenak, menghela napas kemudian berkata, “Berapa banyak saudara sudah memberi?”

Meminta dan memberi adalah suatu keseharian yang sangat lumrah, begitu lumrahnya hingga orang tidak menganggapnya lagi sebagai sesuatu yang penting. Padahal, banyak sisi kehidupan menjadi lebih benderang karenanya. Katakanlah satu contoh kecil, sebuah kesuksesan ada di depan mata setelah seseorang meminta kepada-Nya dan Dia memberinya. Namun pernahkah seseorang menyadari lebih dalam, setelah suatu keinginan tercapai? Acapkali begitu mudah melupakan peristiwa “meminta – diberi” tersebut. Ucapan terima kasih dan syukur kadang hanya menjadi ritual penutup yang segera dilupakan.
Maksudnya adalah, setelah seseorang telah diberi sesuatu yang besar dan berharga, adalah rencana tindak lanjut (RTL) atas peristiwa itu? Atau mungkin RTL-nya adalah sekedar “kapan meminta lagi.”

Sedikit merenung lebih dalam, mengapa banyak orang merasa diri tidak “dikabulkan” permintaannya. Mengapa banyak orang merasa gagal, meski sudah melakukan doa novena dan ritual-ritual lainnya. Sebenarnya, kita bisa ulang lagi kata-kata sang guru spiritual, “berapa banyak kamu sudah memberi?”
Bila kita hitung-hitung dengan jujur, dalam doa kita hampir dipastikan, “meminta” jauh lebih dominan dibanding “siap memberi.”  Nah, di sinilah masalahnya: kita kurang mau memberi!!

Carilah dahulu Kerajaan Allah ...
Ada rahasia besar di balik Sabda Tuhan dalam Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Mengapa Tuhan melarang kita kawatir? Mengapa Dia begitu yakin dengan “sesuatu” yang akan kita dapat bila telah menjalankan pencarian Kerajaan Allah dan kebenarannya? Apakah keYAKINan Yesus itu juga membuat kita YAKIN? Barangkali memang begitu banyak harta berharga di balik kata-kata Kitab Suci, sehingga mutiara rahasia dalam Mat 6:33 itu seolah terlupakan.
Mencari Kerajaan Allah adalah mencari Yesus sendiri, mencari Yesus adalah mencari dan melaksanakan amanat-Nya: Mengasihi Allah dan sesama. Mengasihi Allah dan sesama adalah memberikan diri. Jadi, pencarian Kerajaan Allah akan berhasil ketika kita memberikan diri. Dan ketika kita berhasil memberikan diri, sesungguhnya memberikan harta dan uang hanyalah soal kecil.
Lalu, apa yang akan ditambahkan kepada kita, bila telah mendahulukan Kerajaan Allah? Tentu bukan sekedar makanan, minuman dan pakaian. Kelimpahanlah yang akan diperoleh siapa saja ryang telah mendahulukan kerajaan Allah. Sebab Dia datang supaya kita mempunyai hidup dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Sabda Tuhan adalah kebenaran!!

Memberi = menerima berlimpah
Logika dangkal, yaitu kerja pikiran yang tergesa tanpa permenungan barangkali akan menyimpulkan: Semakin memberi, semakin bangkrut! Semakin banyak mengeluarkan dana untuk orang lain, semakin kecillah pundi-pundi kekayaannya!
Tetapi pernahkan kita berpikir, mengapa orang-orang sukses, meski mengalami bencana kebakaran, kebanjiran, dan bencana-bencana besar lainnya, dalam waktu singkat dapat bangkit kembali, bahkan mampu menjadi lebih besar dari sebelumnya? Mereka telah menemukan rahasia ini! Bahkan mereka yang tak mengenal Alkitab pun banyak yang telah menemukan dan menghayati rahasia ini: Dengan banyak memberi secara iklas, maka kita akan menerima berlimpah ruah!
Telah banyak dibuat seminar, workshop atau pelatihan-pelatihan untuk memahami dan menghayati rahasia tersebut. Ribuan orang penting dari berbagai perusahaan dan lembaga berduyun-duyun mendatangi acara tersebut, untuk sama-sama menemukan rahasia hidup berkelimpahan. Dan untuk itu mereka dengan iklas dan sukacita merogoh kocek jutaan hingga puluhan rupiah. Sebuah pertanyaan menggelitik: Maukah kita mengeluarkan uang pribadi jutaan rupiah untuk “sekedar” mengikuti seminar?? Kenyataannya, banyak orang telah lebih dahulu menutup pintu hati, sebelum tamu datang. Dan ketika tamu datang membawa berkah, hati kita terlanjur tertutup rapat!!

Menabur dan menuai
Ketika sebutir biji jatuh ke tanah, tanpa kita sadari telah terjadi proses alamiah yang dahsyat! Kita sadari atau tidak, kita kehendaki atau tidak biji tadi akan tumbuh dan tumbuh, dari kecil  menjadi sedang, lalu menjadi besar dan sangat besar!  Demikian pula bila Kerajaan Allah sudah kita ketemukan, dari yang semula kecil tanpa kita sadari akan menjadi sangat besar!! (Mrk 4:31-32). Sesungguhnya hukum tabur – tuai, tidak hanya ditemukan dalam Kitab Suci, tetapi sudah merupakan hukum alam. Apa yang telah ditabur, akan tumbuh menjadi besar dan dituai. Maka tidak salah ada pepatah: Siapa menabur angin, akan menuai badai!
Perbuatan - entah baik atau jahat – itu seperti biji yang terjatuh ke tanah. Disadari atau tidak, dikehendaki atau tidak, ia akan bertumbuh menjadi besar dan besar sekali. Maka, memelihara perbuatan jahat dalam hati sungguh berbahaya bagi masa depan seseorang. Mengapa tidak memelihara perbuatan baik saja, yang sudah jelas-jelas akan bertumbuh menjadi kebaikan yang besar??
Memberi dengan iklas dan tanpa pamrih, sudah jelas tergolong perbuatan baik. Bila ini menjadi sebuah kebiasaan dan disadari dengan sepenuhnya, maka akan menjadi sebuah bibit tanaman yang subur. Kita tidak usah menghitung-hitung, berapa biji telah ditabur, tidak perlu berhitung  berapa besar panenan akan diperoleh. Karena perbuatan iklas dan tanpa pamrih tidak pernah memperhitungkan hasilnya. Maka, Sabda Tuhan: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” tidak boleh diterjemahkan sebagai: “Aku akan memberi banyak SUPAYA Tuhan membalasnya berlimpah”!

Hati dan pikiran iklas
Nah, bagaimana melogikakan kebenaran Sabda Tuhan? Pertama-tama Sabda tidak boleh  ditangkap dan diolah hanya dengan nalar! Sabda harus diinternalisasikan ke dalam HATI! Artinya, Sabda itu diimani sepenuhnya melalui kepasrahan hati, bukan melalui kebenaran logika nalar. Namun, ternyata bila dinalar semakin dalam dalam kepasrahan, rahasia Sabda Tuhan ternyata melebihi daya nalar manusia! Kehebatan daya nalar manusia tidak mampu memecahkan rahasia Sabda, tetapi Sabda seringkali justru mampu memecahkan kebuntuan daya nalar manusia!
Sabda Tuhan tetap adanya. Ilmu pengetahuan selalu berkembang! Nah, Sabda yang semula sulit dicerna oleh nalar itu sedikit demi sedikit terkuak oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Sekali lagi, kebenaran Sabda tidak bisa dijajagi oleh kemajuan ilmu pengetahuan, namun kemajuan seringkali diterangi oleh kedalaman dan keagungan Sabda Tuhan.

Dikalimatkan secara sederhana, tema kita ini adalah: Jika kita memberi dengan iklas, maka kita akan berkelimpahan! Iklas itu tanpa pamrih, tanpa mengharap balasan. Menurut ilmu Fisika Quantum, ada hukum tarik menarik antara hal-hal yang sejenis. Perbuatan adalah energy, yang akan dipancarkan ke luar. Perbuatan baik, dengan demikian berarti akan memancarkan energy baik. Nah, energy yang terpancar keluar tadi akan berbalik dengan membawa energy serupa. Gampangnya, ketika kita memancarkan energy positif keluar, energy positif kita akan bertambah! Ketika kita mempertahankan rasa gembira, maka kegembiraan kita akan berlipat. Namun ketika kita memelihara rasa sedih dalam diri kita, kesedihan itu akan bertambah! Memberi dengan sukacita akan mendatangkan sukacita besar karena kelimpahan. Sukacita karena kelimpahan ini sungguh di luar perhitungan manusiawi. Seperti halnya panenan melimpah seringkali di luar perhitungan.
Jadi, buat apa memelihara perbuatan jahat, kalau ternyata hanya akan membuat hidup semakin sengsara? Lebih baik memelihara perbuatan baik, yang akan membuat diri kita semakin bahagia dan berkelimpahan.

Kembali ke masalah memberi dan menerima. Mungkin banyak di antara kita yang masih terlalu menghitung-hitung secara matematis sebelum memasukkan uang ke dalam kantong kolekte, amplop Aksi Natal, iuran paroki atau pesembahan lainnya. Kondisi tersebut justru memberi beban baru berupa kekawatiran akan kekurangan uang atau kesulitan ekonomi. Sebaliknya memberi dengan iklas sambil bersyukur atas kelimpahan dari Tuhan, sungguh akan menghadirkan perasaan damai dan sukacita. Secara matematis kolekte dalam gereja katolik masih sangat jauh dari konsep “persepuluhan” seperti tercantum dalam Kitab Perjanjian Lama. Namun, soal jumlah memang tidak menjadi ukuran keiklasan hati. Tetapi bila mau jujur, kelonggaran gereja katolik dengan memberi kepercayaan umat untuk memberi sesuai dengan keiklasannya justru sering dijadikan dalil untuk memberi ala kadarnya, alias sedikit! Nah, kalau memberi kepada Gereja alias umat alias Tubuh Tuhan dengan ala kadarnya, pantaskah menuntut Tuhan memberi dengan kelimpahan??


Terakhir, sebagai simpulan, memberi tanpa pamrih dengan iklas, tanpa menghitung-hitung, akan mendatangkan kelimpahan. Sabda Tuhan memberi dasar dan ilmu pengetahuan membuktikannya. Sindrom peralihan dari Gereja Misi menuju Gereja Mandiri tidak boleh menjadi alasan gereja Katolik tidak mandiri. Umat harus diberdayakan! Sekali lagi : Iklas memberi dan Berkelimpahan! Selamat memberi persembahan! Tuhan memberkati dengan kelimpahan!

Malang, 23 Desember 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar