Senin, 30 November 2009

Konstruktivistik

PEMBELAJARAN BERMAKNA
MELALUI PARADIGMA KONSTRUKTIVISTIK
Markus Basuki
(No. 09370013/MKPP – Program Pasca Sarjana UMM 2009)

Abstrak : Tantangan terbesar insan pendidikan Indonesia masa kini adalah memformat SDM berkualitas. Perubahan radikal sebagai dampak era globalisasi memaksa setiap bangsa, termasuk Indonesia. untuk eksis dan survival dengan SDM unggul. Jika tidak, bangsa itu akan menjadi pecundang (the lossers) dan selalu bergantung pada bangsa lain. Kualitas SDM sangat dipengaruhi oleh sistem pendidikan yang dianut. Indonesia, sebagai bagian dari dunia ketiga kini berada pada titik nadir kualitas pendidikan. Hal ini merupakan hasil dari pola pendidikan paradigma lama yang dipengaruhi paham behavioristik. Pendekatan baru berupa pembelajaran konstruktivistik ditawarkan sebagai salah satu alternative. Pendekatan ini menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada aktivitas peserta didik, belajar bagaimana belajar.

Kata kunci: pembelajaran behavioristik, pembelajaran konstruktivistik.

Pendahuluan
Memasuki era global setiap bangsa dituntut mampu bermitra sekaligus berkompetisi dengan bangsa lain. Namun ketika memasuki masa tersebut bangsa Indonesia justru sudah kalah start. Seharusnya bangsa ini telah siap dengan SDM handal yang siap dengan informasi global, pasar global, teknologi global dan gaya hidup global. Namun SDM sebagai produk pendidikan masih amat memprihatinkan. Data UNESCO (2000) membuktikan bahwa peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index) Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998) dan ke-109 (1999). Dan menurut survey Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Sedang data Balitbang (2003) menunjukkan kenyataan bahwa dari 146.052 Sekolah Dasar di Indonesia ternyata hanya ada delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA hanya tujuh sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (Manik, http://www.mii.fmipa.ugm.ac.id.).
Menurut Prof. Dr. Sudarwan Nadim dalam bukunya Menjadi Komunitas Pembelajar, fenomena (pendidikan) Indonesia yang terpuruk ini merupakan korban otoritarianisme Orde Baru, proses pemiskinan yang berlangsung lama, proses pembodohan yang pelan-pelan tapi pasti, konglomerasi yang gagal memberdayakan rakyat akibat kegagalan logika trickle down effect (Wicaksono, http://www.rohadieducation.wordpress.com). Yang harus diperhatikan secara khusus adalah “proses pembodohan” secara konsisten. Banyak langkah sudah diambil, antara lain revisi kurikulum pendidikan, revisi sistem evaluasi, peningkatan sarana prasarana, pelatihan guru hingga diundangkannya Sistem Pendidikan Nasional yang di dalamnya memuat aturan-aturan yang memungkinkan masyarakat luas dapat berpartisipasi lebih aktif dalam penyelenggaraan pendidikan. Kecuali itu otoritas pengambil keputusan yang selama ini sentralistik telah bergeser menuju otonomi daerah. Namun hasil belum menggembirakan.
Hal mendasar yang menjadi akar permasalahan pendidikan adalah paradigma yang mendasari sistem kita. Sejak kemerdekaan, bangsa Indonesia- sebagaimana bangsa-bangsa lain telah mengambil aliran behavioristik sebagai paradigma sistem pendidikan. Maka sesungguhnya hasil pendidikan nasional yang selama ini kita rasakan adalah buah dari sistem pendidikan yang telah lebih lima dasa warsa berlangsung. Pemikiran-pemikiran kritis mengenai sistem pendidikan tentu bukan pertama-tama untuk mempersalahkan dan menggugat, melainkan demi ditemukannya sistem yang mampu mengakomodasi berbagai aspek yang ada demi terciptanya suatu pendidikan yang lebih menyentuh.
Tulisan ini dibuat untuk menjajagi secara sederhana sejauh mana peluang teori belajar Konstruktivistik dapat menjadi salah satu alternatif membangun proses pendidikan dan pembelajaran yang lebih memadai pada masa sekarang.

Hakikat Pembelajaran Behavioristik dan Konstruktivistik
Belajar, menurut Thorndike, seorang penganut paham behavioristik, merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-sosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut. Jadi terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara stimulus dan respon (Gasong, http://www.images.dani7bd.multiply.com). Kaum behavioristik meyakini bahwa perilaku merupakan kumpulan reflek yang diakibatkan proses conditioning. Reflek berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Dan perilaku akibat pembiasaan ini disebut belajar. Proses belajar bagi kaum behavioristik berlangsung tanpa mempertimbangkan potensi dan kemauan serta kesadaran peserta didik. Maka model pembelajaran bersifat teacher centered. Tujuan pembelajaran ditentukan oleh institusi dan peserta didik tinggal mengikutinya. Implikasinya: materi pelajaran ditentukan pengajar, pengajar aktif menerangkan dan peserta didik hanya pasif menerima hingga saatnya evaluasi. Bisa dikatakan pengajar menjadi satu-satunya sumber belajar. Motivasi belajar hanya dirangsang dengan nilai. Akibatnya tujuan belajar berbelok hanya sekedar sederetan angka. Banyak anak belajar dengan cara menghafal pelajaran, namun materi yang dihafal tersebut tidak diingat lagi ketima ia berada di kelas berikutnya. BIsa terjadi anak yang disebut berprestasi hanyalah anak yang kuat menghafal, padahal pengetahuan yang didapat dengan cara menghafal tidak mampu bertahan lama. Tidak jarang pula peserta didik dijadikan kebanggaan institusi dengan angka-angka yang tinggi, baik lewat ujian nasional maupun lomba-lomba. Akibatnya segala potensi, kemauan dan waktu peserta didik terserap hanya demi nilai (Wicaksono, http://www.rohadieducation.wordpress.com). Jika ini berlangsung beberapa dekade, bisa dipahami benar kalau produk pendidikan kita masih jauh dari memadai.
Model pembelajaran Konstruktivistik adalah alternatif yang diyakini mampu menjawabi kekurangan paham behavioristik. Tentu harus disadari model ini bukanlah satu-satunya yang baik, ap[alagi terbaik. Secara sederhana, konstruktivistik, yang dipelopori oleh J. Piaget, beranggapan bahwa pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan) dari kita yang mengenal sesuatu. Seseorang yang belajar itu berarti membentuk pengertian/pengetahuan secara aktif (tidak hanya menerima dari guru!) dan terus-menerus. Metode trial and error, dialog dan partisipasi peserta didik sangat berarti sebagai suatu proses pembentukan pengetahuan dalam pendidikan (Suparno: 2009). Menurut teori belajar konstruktivistik pengetahuan tidak bisa dipindahkan begitu saja dari guru kepada murid. Artinya, peserta didik harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya (Hamzah, http://akhmadsudrajat.wordpress.com). Yang terpenting dalam teori konstruktivistik adalah bahwa dalam proses pembelajaran, peserta didiklah yang harus mendapatkan penekanan. Mereka harus aktif mengembangkan pengetahuannya, mereka pula yang harus bertanggung jawab atas hasilnya. Belajar diarahkan pada experimental learning, yaitu adaptasi kemanusiaan berdasar pengalaman konkret di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, dan kemudian dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Beberapa hal perlu mendapat perhatian: mengutamakan pembelajaran yang nyata dan relevan, mengutamakan proses, menanamkan pembelajaran dalam konteks pengalaman sosial dan dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman (Pranata, http://puslit.petra.ac.id). Proses internalisasi pengetahuan menjadi lebih mengena dalam fahan konstrktivistik karena peserta didik tidak sekedar mendengar dan menghafal, tetapi mengalami, menemukan, memahami, menyimpulkan dan akhirnya menjadikan miliknya.

Membangun Pembelajaran Bermakna dengan Pola Konstruktivistk
Menurut pandangan konstruktivistik belajar dan pembelajaran memiliki ciri : 1) Tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana belajar. 2) Pengetahuan adalah non-objective, selalu berubah. Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkret, aktivitas kolaborative, refleksi serta interpretasi. Si belajar memiliki pemahaman tergantung pengalaman dan perspektif interpretasinya sehingga hasilnya individualistic. 3) Penataan lingkungan belajar: tidak teratur, semrawut, si belajar bebas, kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan dan control belajar dipegang si belajar. 4) Dalam strategi pembelajaran, lebih diarahkan untuk meladeni pandangan pebelajar. Aktivitas belajar lebih didasarkan pada data primer. Pembelajaran menekankan proses. 5) Evaluasi menekankan pada penyusunan makna, menggali munculnya berpikir dengan pemecahan ganda. Dan evaluasi merupakan bagian utuh dari pembelajaran, dan menekankan pada ketrampilan proses (Gasong, http://www.images.dani7bd.multiply.com).
Harus disadari sepenuhnya, bahwa untuk membangun suatu pembelajaran dengan roh konstruktivistik diperlukan dukungan kondisi setempat, baik SDM guru dan peserta didik, lingkungan, juga institusi yang bertanggung jawab atasnya. Dari sisi pendidik, setidaknya telah memiliki paradigma pemikiran yang terbuka tentang pendidikan. Sebagai contoh, jika dahulu keberhasilan mengajar sering dilihat dari ketertiban lahiriah, kini pendidik justru harus siap dengan suatu kesemrawutan. Peserta didik kini diberi keleluasaan berkembang, namun pendidik harus mampu menjadi fasilitator handal sehingga tidak hanyut dengan arus keinginan peserta didik yang mungkin melenceng. Lingkungan, khususnya masyarakat tentu harus memiliki pemahaman yang sama tentang pola pembelajaran ini. Karena tidak bisa dipungkiri, masih banyak orangtua peseta didik yang memiliki pola tradisional dalam pendidikan dan menjadikannya tolok ukur kualitas sekolah yang dipilih. Pada akhirnya kebijakan-kebijakan berupa produk hukum tentang pendidikan seharusnya mendukung paradigma ini. Sebab tak jarang idealisme proses/model pembelajaran yang telah dimiliki oleh sebagian pendidik, dalam implementasinya sering harus berhadapan dengan kebijakan yang bertolak belakang.

Kesimpulan
Dari beberapa uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa model pembelajaran yang mengacu pada teori belajar konstruktivisme lebih memfokuskan pada keberhasilan peserta didik dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Guru menjadi fasilitator yang membantu peserta didik mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi. Namun tetap harus diperhatikan bahwa model pembelajaran ini harus didukung oleh lingkungan yang tepat. Dibutuhkan guru yang memiliki wawasan pendidikan yang maju, tidak terjebak pada rutinisme dan kebiasaan lama. Tujuan model belajar ini adalah menciptakan insan-insan pebelajar yang selalu terdorong mengembangkan diri melalui belajar. Untuk mendorong munculnya mentalitas demikian, institusi pendidikan harus ikut menciptakan situasi masyarakat pebelajar. Semua elemen didorong menjadi manusia pebelajar. Model konstruktivistik akan mencapai hasil optimal jika diterapkan dalam lingkungan manusia pebelajar.

Referensi

Degeng, I.N.S. 1998. Mencari Paradigma Baru Pemecahan Masalah Belajar. Pidato Pengukuhan Guru Besar IKIP Malang. Malang: IKIP Malang.
Gasong, Dina. Tanpa tahun. Model Pembelajaran Konstruktivistik Sebagai Alternatif Mengatasi Masalah Pembelajaran. dari http://www.images.dani7bd.multiply.com.
Hamzah, 2008. Teori Belajar Konstruktivisme. Retrieve 20 Agustus 2008. Dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com
Manik, F. Suseno. 2006. Pendidikan di Indonesia: Masalah dan Solusinya.Retrieved 9 Mei 2006. dari http://www.mii.fmipa.ugm.ac.id.
Pranata, Y. Mulyadi. Konstruktivistik: Arah Baru Pembelajaran Desain. Dari http://www.puslit.petra.ac.id.
Wicaksono, Rohadi. 2007. Mengapa Harus Konstruktivistik. Retirieve 19 Juli 2007. dari http://www.rohadieducation.wordpress.com.
Suparno, Paul. 2008. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar